Biografi Prajogo Pangestu, si Pengusaha Kayu Sukses di Indonesia

by Taufan Adi Putra

Biografi Prajogo Pangestu, si Pengusaha Kayu Sukses di Indonesia

Konglomerat merupakan sebutan dari orang-orang super kaya yang ada di Indonesia. Salah satu sosok konglomerat itu bernama Prajogo Pangestu. Ia dikenal sebagai konglomerat kayu dan sumber daya alam berkat mendirikan perusahaan induk bernama Barito Grup.

Biografi Prajogo Pangestu sebagai tokoh sukses di dunia bisnis dan usaha, cukup menarik untuk dibahas. Pada tahun 2020, majalah bisnis ternama dunia Forbes merilis daftar nama-nama orang terkaya di Indonesia dan dunia.

Berdasarkan informasi di majalah ternama tersebut, setidaknya terdapat 13 daftar nama-nama orang terkaya Indonesia yang tercatat sebagai daftar konglomerat dunia. Nama keluaraga Hartono bersaudara yaitu Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono menempati posisi pertama dan kedua. Sedangkan Prajogo Pangestu berhasil menduduki di posisi ketiga sebagai pendiri Barito Pasific Group.

Latar Belakang Keluarga Prajogo Pangestu

Latar Belakang Keluarga Prajogo Pangestu

Biografi Prajogo Pangestu adalah seorang pengusaha kaya sukses Indonesia, yang lahir pada 13 Mei 1944 di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Ia memiliki nama tionghoa, Phang Djun Pen dari pemberian sang ayah.

Nama tersebut diberikan oleh sang ayah, karena memiliki arti “burung besar yang terbang tinggi untuk menguak awan mendung”. Dalam mitologi kuno suku khek (orang China Taiwan). Ayahnya memiliki pekerjaan sebagai seorang penyadap getah karet. Nama ayahnya sendiri ialah Phang Siu On.

Prajogo Pangestu family terdiri dari 5 orang anggota utama. Istri Prajogo Pangestu bernama Herlina Tjandinegara. Lalu dari hasil pernikahannya Prajogo dan istri dikaruniai dengan 3 orang anak. Anak Prajogo Pangestu tersebut bernama Agus Salim Pangestu, Baritono Pangestu, dan Nancy Pangestu.

Masa Muda dan Pendidikan

Masa Muda dan Pendidikan

Seorang Prajogo di masa muda memang mengalami kesulitan ekonomi, karena penghasilan sang ayah terbilang pas-pasan sebagai penyadap getah karet. Ia, dahulu biasa disapa dengan nama ‘A Phen’ hanya dapat menempuh pendidikan sampai bangku SMP saja. Itu dikarenakan keterbatasan ekonomi keluarga.

Tempat bersekolah Prajogo Pangestu adalah SMP berbahasa Mandarin di Kota Singkawang dengan nama SMP Na Hua. Meski tidak bisa melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi saat itu. Prajogo tetap optimis dan percaya bisa mendapatkan kehidupan dan kondisi ekonomi yang lebih baik. Semangat yang tinggi dan tekad yang teguh, akhirnya ia memutuskan untuk pergi merantau ke Jakarta setelah lulus sekolah.

Perantauan ke Ibukota Jakarta dan Nasibnya Saat Itu

Perantauan ke Ibukota Jakarta dan Nasibnya Saat Itu

Sebagai seorang perantau di Ibukota Jakarta, Prajogo Pangestu tentu memiliki harapan dan angan-angan untuk membangun kehidupan lebih baik. Akan tetapi, nasib berkata lain kepada Prajogo. Niat hati ingin mengubah nasib di kota besar, berakhir kecewa berkali-kali yang gagal mendapatkan pekerjaan.

Dengan berat hati Prajogo terpaksa memutuskan untuk kembali ke kampung halaman di Kalimantan. Setelah kembali ke kampung, ia kemudian memutar akal untuk bisa mendapatkan penghasilan. Akhirnya ia memulai pekerjaan sebagai seorang supir angkutan umum atau angkot dengan jalur trayek rute Kota Singkawang – Kota Pontianak.

Tidak cukup menjadi seorang supir, Prajogo Pangestu juga mulai memberanikan dirinya untuk membuka usaha kecil-kecilan. Seperti berjualan bumbu-bumbu masak, keperluan dapur, bahkan ikan asin.

Baca:  Menegosiasikan Gaji Dengan Cerdik

Mengenal Pengusaha Kayu Burhan Uray dan Perjalanan Karir Bekerja

Mengenal Pengusaha Kayu Burhan Uray dan Perjalanan Karir Bekerja

Di tahun 1960-an, Prajogo Pangestu mengenal seorang pengusaha kayu sukses asal Serawak, Negeri Malaysia. Pengusaha tersebut bernama Burhan Uray alias Bong Sun Ong. Sosok Burhan datang ke Indonesia melalui Kota Pontianak, disaat ramai-ramainya kasus penyelundupan kayu ke Malaysia.

Saat itu banyak terjadi penebangan kayu hutan berskala besar dan massif. Karena adanya sistem persil dan petak rakyat yang menguntungkan Burhan, secara belimpah ruah. Ini adalah kelemahan dalam sistem aturan, sehingga pemerintah akan mengalami kesulitan dalam mengawasi data manipulative. Dari jumlah tebangan pohon yang berada di hutan saat itu.

Sebagai seorang pengusaha yang jeli, Burhan melihat Prajogoo memiliki potensi yang baik dalam bisnis. Sehinnga memutuskan untuk merekrutnya, agar bisa bekerja di PT Djajanti Grup. Sebagai seorang pekerja saat itu, ia diberi kepercayaan dan tugas untuk mengurus Hak Pengusahaan Hutan (HPH) di Kalimantan Tengah.

Setelah 6 tahun bekerja, nama seorang Prajogo Pangestu secara perlahan mulai dikenal orang masyarakat. Ketika itu Burhan Uray ingin melakukan upaya pemindahan terhadap PT Djajanti yang tadinya di kota Pontianak ke Kota Banjarmasin. Setelah waktu setahun pemindahan tersebut, Prajogo Pangestu ditunjuk langsung oleh Burhan. Mendapatkan jabatan General Manager di sebuah pabrik kayu Pylwood Nusantara, di Kota Gresik, Jawa Timur.

Dengan jabatan barunya, Prajogo bekerja di Pylwood Nusantara selama setahun dan setelahnya memutuskan untuk resign. Ia ingin merintis bisnisnya sendiri di bidang perhutanan, terlebih sudah memahami betul berbagai permasalahan perhutanan dan kayu. Dimana pengalaman yang didapatkannya dari para ahli asal Malaysia ketika di PT Djajanti.

Perjalanan Merintis Bisnis Perkayuan dan PT Barito

Perjalanan Merintis Bisnis Perkayuan dan PT Barito

Perjalanan awal Prajogo Pangestu merintis bisnis dimulai dengan membeli sebuah perusahaan. Mengingat perusahaan tersebut di ambang kebangkrutan akibat harga kayu log yang turun drastis. Perusahaan tersebut bernama CV Pasific Lumber Coy.

Prajogo memperoleh modal uang dari pinjaman utang modal dari bank BRI yang kemudia dapat ia lunasi. Hanya dalam jangka waktu satu tahun saja dirinya mampu melunasi utang tersebut. Diketahui, CV Pasific Lumber Coy sebelumnya merupakan perusahaan milik pengusaha kayu asal Kalimantan Selatan bernama Obos. Prajogo akhirnya mengganti nama perusahaan itu menjadi PT Barito Pasific Lumber.

Bermodalkan pengalaman yang panjang dan ilmu mengenai bisnis perkayuan dan perhutanan. PT Barito Pasific Lumber semakin maju dan berkembang di tangan Prajogo Pangestu. Ia dan perusahaannya berhasil memperoleh HPH (Hak Pengusahaan Hutan) di berbagai daerah besar di Indonesia. Seperti Sumatera Selatan, Sulawesi Utara, Malu, hingga Papua.

PT Barito Pasific Lumber berhasil menguasai total lahan seluas 5,5 juta hektar di seluruh Nusantara. Jika dihitung-hitung luas lahan tersebut, bisa setara dengan luas negara Swiss secara perhitungan. Pada tahun 1980-an, PT Barito melakukan ekspansi bisnis secara besar dengan berhasil memiliki lebih 20 anak perusahaan dan mencapai titik puncak masa kejayaan.

Pada tahun 1990-an, kesuksesannya meningkat pesat dengan membawahi 120 perusahaan yang berada pada sektor dan bidang di luar perhutanan HPH. Seperti Pabrik Pulp, Petro Kimia, Properti, Taman Industri, dan Transportasi Kelautan.

Baca:  Tentang NIB Perusahaan Yang Harus Anda Pahami

Kedekatan Dengan Keluarga Cendana dan Presiden Soeharto

Kedekatan Dengan Keluarga Cendana dan Presiden Soeharto

Keberhasilan dan kesuksesan Prajogo Pangestu tidak terlepas kaitannya dengan pengaruh Keluarga Cendana. Banyak isu yang beredar bahwa keberhasilan PT Barito Pasific merupakan berkat hasil ‘gelap’, menggarap HPH di Kalimantan Timur.

Dikatakan HPH tersebut sebenarnya milik PT Panambangan yang dipimpin oleh Soekamdani Sahid Gitosardjono. Ia diketahui merupakan kerabat dan saudara dekat dari Presiden Soeharto. Di masa orde baru, memang hak pengelolaan hutan telah diatur dan dibagikan kepada kerabat dan keluarga sang penguasa. Terutama mereka yang menduduki jabatan militer.

Tetapi dalam prakteknya, ‘keistimewaan’ tersebut tidak dijalankan dengan serius secara pengelolaan hingga lebih banyak diserahkan kepada pihak lain. Walaupun tindakan tersebut sebenarnya melanggar undang-undang kehutanan pada masa itu.

Disinilah menjadi kesempatan bagi Prajogo Pangestu memperoleh keuntungan dari aturan tersebut. Ia mendapat kepercayaan untuk ‘memainkan peran’ sebagai pengelola HPH dengan bagi hasil yang saling menguntungkan. Serta mendapat kemudahan melebarkan usaha karena telah ‘andil membantu’ Keluarga Cendana.

Kedekatan dengan lingkaran keluarga penguasa saat itu, menjadikan langkah bisnis Prajogo Pangestu aman dan tak tersentuh hukum. Pada tahun 1980-an, pemerintah sempat melarang ekspor kayu gelondongan yang membuat usahanya agak ‘goyang’.

Dengan jeli Prajogo cepat menanggapi permasalahan tersebut, dengan mendirikan perusahaan pengelolaan kayu yang dimodali pinjaman utang dari Bank Prancis Lyonais. Kucuran dana yang dikeluarkan bank asing tersebut berjumlah 150 juta Franc.

Dengan uang sebesar itu, ia membangun beberapa pabrik produk kayu yaitu pylwood dan samwill yang merupakan pondasi awal Barito Pasific Timber. Berkat langkah bisnisnya itu, membuat Prajogo Pangestu kembali sukses menjadi produsen dan pemain ekspor kayu plywood terbesar secara global saat itu.

Berkat kesuksesan di bidang produksi dan pengelolaan produk kayu secara global, membuat majalah bisnis luar yaitu Far Easten Economic Review. Memberikan julukan Prajogo Pangestu sebagai ‘Lord Forest’ atau Raja Kayu dari Indonesia. Kemudian Prajogo semakin erat dan dekat dengan keluarga dinasti Cendana.

Pada masa 1980-an, Prajago semakin dekat dengan putra-putri Presiden Soeharto. Ia bahkan membangun kerja sama bisnis dengan putri sulung sang penguasa yaitu Siti Hardiyanti Rukmana alias Mbak Tutut. Mereka berkongsi dan bekerja sama dengan membangun beberapa perusahaan yang ada di Pulau Sumatera. Seperti PT Enim Musi Lestari, Perkebunan Hasil Musi Lestari, dan PT Gandaerah Hendana.

Di tahun 1991, Prajogo dan Mbak Tutut kembali mendirikan perusahaan di bidang pengelolaan hutan, yaitu PT Musi Hutan Persada. Selain berkongsi dan bekerja sama dengan Mbak Tutut, ia juga menjalin kerjasama dengan Bambang Trihatmojo sebagai pemilik Bimantara Grup. Yang mana, mendirikan sebuah pabrik pengelolaan bubur plastik yaitu, PT Chandra Asri di Cilegon, Jawa Barat.

Prajogo semakin dekat dan erat dengan lingkaran keluarga penguasa orde lama. Kemudian ia mulai menjalin hubungan dekat dengan Presiden Soeharto alias ‘The Smilling’ Jendral. Mereka sering terlihat bermain golf bersama, bahkan Prajogo membawakan tongkat gold milik penguasa itu. Disaat penguasa orde baru tersebut lengser dari jabatannya, bisnis Prajogo juga terkena imbasnya dan mengalami masalah.

Baca:  4 Keunggulan Bisnis Wallpaper Dinding Menghasilkan Jutaan Rupiah

Dengan kepiawaian membangun relasi, Prajogo cekatan dalam membaca kondisi. Setelah Presiden Soeharto lengser, ia mulai mendekati penggantinya yaitu Presdien Abdurrahman Wahid atau lebih dikenal dengan sebutan Gus Dur. Langkah politiknya itu dirasa cukup tepat, karena Gus Dur membantu Prajogo Pangestu. Dengan statement, bahwa Prajogo merupakan aset negara yang telah berjasa membuka lapangan kerja, serta memberi pundi-pundi ekspor untuk Indonesia

Pernyataan Gus Dur tersebut dirasa berhasil menunda penyidikan terhadap dirinya. Setelah muncul berbagai desakan dari masyarakat dan mahasiswa untuk menuntut koruptor dan pengusaha orde baru diseret ke meja hijau pengadilan.

Karena desakan yang kuat dari berbagai pihak, akhirnya Gus Dur harus melepas perlindungan kepada Prajogo. Dan mengambil langkah pamungkas dengan menunjuk seorang jaksa agung baru yang lebih berani, serta keras dalam menangani kasus korupsi. Jaksa agung tersebut bernama Baharuddin Lopa, yang banyak mengirim pejabatan dan pengusaha ke penjara.

Pada tahun 2009, nama Prajogo Pangestu kembali mencuat dan terdengar oleh banyak khalayak karena kasus Menara Jakarta. Ia digadang-gadang merupakan seorang pemegang saham mayoritas dari menara yang akan dibangun, setinggi 558 tersebut. Dengan estimasi biaya pembangunan proyek sebesar 5 triliun rupiah.

Kesuksesan dan Kekayaan Prajogo Pangestu Saat Ini

Kesuksesan dan Kekayaan Prajogo Pangestu Saat Ini

Saat ini Barito Grup, yang didirikan Prajogo Pangestu terus mengalami perkembangan dan kemajuan. Dengan merambah ke berbagai sektro seperti petrokimia, properti, pengelolaan kayu, perkebunan, minyak sawit dan sektor lainnya.

Prajogo berhasil melakukan akuisisi terhadap saham, PT Chandra Asri dan PT Tri Polyta Indonesia sebagai salah satu perusahaan petrokimia terbesar di tanah air. Saat ini, kekayaan Prajogo Pangestu ditaksir mencapai 6 miliar USD atau setara dengan nilai 106 triliun rupiah. Yang berdasarkan data dari majalah bisnis Forbes.

Di usianya yang memasuki umur 77 tahun di tahun 2021 ini. Ia pernah mendapat sebuah penghargaan yaitu Bintang Jasa Utama dari Presiden Joko Widodo di tahun 2019. Penghargaan tersebut diberikan karena Prajogo dinilai sebagai tokoh berjasa bagi kemajuan, dan kemakmuran bangsa dan negara melalui dunia usaha dan membuka lapangan kerja.

Kemudian, putranya yang bernama Agus Salim Pangestu akan menjadi kandidat penerus dari kepemimpinan Barito Grup. Agus telah menjabat sebagai Wakil Presiden Direktur Barito Pasific sejak tahun 2002 hingga saat ini. Meski demikianm Prasojo tetap menjabat posisi penting sebagai Presiden Komisaris Utama.

Akhir Kata

Demikianlah pembahasan lengkap mengenai biografi dan biodata Prajogo Pangestu, orang terkaya Indonesia sebagai pengusaha kayu sukses. Meski dirinya sempat menjual ikan asin, bahkan supir angkutan umum saat di awal membangun tangga kesuksesan. Setiap pengusaha tentunya mengalami proses terlebih dahulu, sebelum mencapai puncak kejayaan. Itulah cerita dan perjalanan hidup dari ‘Raja Kayu’ Indonesia yang berhasil mendirikan Barito Grup.



Whatsapp
Call Now